MATARAM – Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kegiatan Pengukuhan dan Rapat Kerja Pengurus Provinsi periode 2026–2030 di Auditorium Museum Negeri NTB, Minggu (25/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, KOSTI NTB menghibahkan satu unit sepeda ontel merek Simplex kepada Museum Negeri NTB sebagai bentuk komitmen dalam menjaga dan melestarikan sejarah.
Hibah tersebut diserahkan langsung oleh H. Agus Cahyono, S.H., M.M Ketua KOSTI NTB didampingi I Gede Tirta Sekertaris KOSTI NTB kepada Dr. Ahmad Nur Alam, M.H Kepala Museum Negeri NTB.
I Gede Tirta menjelaskan sejarah sepeda tersebut yakni ia mendapatkan sepeda itu ketika bekerja di Sumbawa dan bertemu seorang kakek di Desa Maluk Loka Kabupaten Sumbawa Barat. Kekek tersebut merupakan salah satu pengagum Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno.
“Menurut masyarakat sepeda onthel tersebut didapatkan dari orang tuanya dan sudah lama dimilikinya. Saat itu saya berkeinginan membeli sepedanya, akan tetapi kakek tersebut tidak mau menjualnya. Beberapa hari kemudian kakek itu datang ke rumah saya untuk sekedar bersilaturahmi dan ketika beliau melihat poster Soekarno yang terpasang di ruang tamu saya, kemudian beliau bercerita banyak tentang sosok Soekarno dan sepeda onthel, ketika berpamitan pulang kakek tersebut berbisik kepada saya kalau dia minta dicarikan sepeda yang onthel yang jelek-jelek, sepeda Simplex ini disuruh rawat dengan baik, saya terus pegang amanat itu sampai saat ini. Banyak teman-teman onthelis yang menawar sepeda tersebut dengan harga yang fantastis, karena ini merupakan sepeda langka dan merupakan sepeda Simplex keluaran pertama” ujarnya.

Perlu kita ketahui bersama bahwa zaman dahulu untuk membeli sepeda onthel memerlukan perjuangan yang luar biasa, mereka harus menjual 2 petak sawah atau menjual 2 ekor ternak oleh karena itu melalui kesempatan yang baik ini saya menyerahkan sepeda ini kepada KOSTI NTB dan KOSTI NTB selanjutnya menghibahkan ke Museum Negeri NTB.
Ketua KOSTI NTB, H. Agus Cahyono, S.H., M.M mengatakan kehadiran KOSTI NTB bukan sekadar untuk menyalurkan hobi, melainkan juga menjalankan misi pelestarian sejarah dan budaya melalui sepeda tua. Menurutnya, sepeda tua bukanlah barang rongsokan, tetapi memiliki nilai sejarah yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Di setiap karat dan bunyi loncengnya ada cerita perjuangan bangsa. Tugas kita adalah merawatnya agar generasi muda mengetahui bahwa inilah kendaraan yang mengantar para pejuang, pegawai pemerintahan, petani, guru, dan pedagang,” ucapnya.
Lebih lanjut Agus Cahyono berharap sepeda onthel ini dapat menjadi koleksi bersejarah yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada pengunjung Museum Negeri NTB. Dengan melihat dan mempelajari sepeda onthel, generasi muda dapat memahami bagaimana masyarakat pada masa lalu memanfaatkan sepeda sebagai alat transportasi ketika masa sebelum kemerdekaan dan pasca kemerdekaan untuk menunjang aktivitas sehari-hari mereka.
“Museum memiliki peran penting dalam menjaga dan menyampaikan nilai-nilai sejarah kepada masyarakat, kami ingin generasi muda tidak hanya melihat sepeda onthel sebagai barang lama, tetapi juga memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Dari sepeda ini, mereka bisa belajar tentang perubahan teknologi transportasi, kehidupan masyarakat pada masa lalu, serta pentingnya menghargai dan merawat warisan budaya,” tambahnya.

Sementara itu Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas hibah sepeda onthel yang telah diberikan oleh KOSTI NTB kepada Museum Negeri NTB, Insyallah sepeda ini akan menjadi koleksi terbaru Museum Negeri NTB dan akan kami pamerkan di loby depan Museum, Beliau juga menceritakan bagaimana kaitan sejarah antara letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada 1815 dengan perkembangan awal sepeda di Eropa.
“Pada April 1815, Gunung Tambora mengalami letusan dahsyat. Material vulkanik dan gas yang mengandung sulfur mencapai atmosfer bagian atas. Aerosol sulfat yang terbentuk kemudian menyebar luas dan mengurangi sebagian radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi. Dampaknya terasa pada 1816, ketika sejumlah wilayah di Eropa dan Amerika Utara mengalami cuaca lebih dingin, hujan berkepanjangan, dan gangguan musim tanam. Kegagalan panen tidak hanya memengaruhi manusia, tetapi juga ketersediaan pakan bagi hewan. Harga gandum dan oat (sejenis serealia yang banyak digunakan sebagai pakan kuda) meningkat di sejumlah wilayah Eropa. Akibatnya, memelihara dan menggunakan kuda sebagai alat transportasi menjadi lebih mahal. Dalam situasi krisis pangan, sebagian kuda juga mati karena kekurangan pakan, sedangkan sebagian lainnya disembelih atau dijual” paparnya.
Lebih lanjut Ahmad Nuralam menceritakan kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang ditemukannya sepeda pertama kali pada 1817, seorang penemu Jerman bernama Karl von Drais. Kisah ini memperlihatkan bagaimana bencana alam di NTB dapat membawa dampak hingga ke Eropa, ini merupakan contoh menarik tentang keterkaitan lingkungan, kebutuhan masyarakat, dan inovasi teknologi.

“Pesan penting bagi generasi muda, sepeda bukan sekadar alat transportasi atau benda koleksi. Sejarah perkembangannya juga mengajarkan tentang kemampuan manusia beradaptasi, berinovasi, dan mencari solusi terhadap tantangan kehidupan” tutupnya.
Acara selanjutnya dilanjutkan penandatanganan hibah sepeda oleh H. Agus Cahyono, S.H., M.M Ketua KOSTI NTB dan Dr. Ahmad Nuralam, S.H., M.H Kepala Museum Negeri NTB.
Dengan demikian, hibah sepeda onthel kepada Museum Negeri NTB bukan sekadar penyerahan sebuah benda, melainkan juga upaya mewariskan pengetahuan dan mengenalkan perjalanan sejarah transportasi(Yp).





