Merawat Surga Bahari: Kolaborasi Menjaga Laut Indonesia Tetap Lestari
- account_circle gardo
- calendar_month Rab, 4 Feb 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar

Pantai di Bali (dok. gapuranews.com)
BALI – Di balik debur ombak yang tak pernah lelah menyapa pantai dan kilau pasir putih yang memesona mata dunia, Indonesia tengah menapaki babak baru pariwisatanya. Tak lagi semata menjual keindahan, negeri kepulauan ini mulai menegaskan satu pesan penting: surga alam hanya akan bertahan jika dirawat bersama.
Sebuah kesadaran kolektif kini tumbuh di tengah para penggerak lingkungan, pelaku industri, hingga pemangku kebijakan. Pengelolaan sampah dan perlindungan ekosistem bahari ditempatkan sebagai fondasi utama keberlanjutan destinasi wisata. Keindahan alam, disadari bukanlah hadiah gratis, melainkan hasil dari tanggung jawab yang terus diperjuangkan.
Aktivis lingkungan sekaligus Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan pihak lain. Menurutnya, setiap individu—terutama aktor pariwisata—memiliki peran langsung dalam menjaga wajah Bali dan destinasi lain di Indonesia.
“Aktor pariwisata harus menyadari bahwa keindahan Bali yang luar biasa ini sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau ‘repot’ dan berinvestasi untuk mengurus sampah,” ujar Suzy Hutomo usai menjadi moderator dalam acara Bali Ocean Days di Jimbaran Convention Center, InterContinental Bali Resort, Sabtu (31/1/2026).
Ia juga menekankan peran wisatawan sebagai bagian dari solusi. Operator wisata bahari, kata Suzy, tidak hanya bertugas melayani, tetapi juga membimbing wisatawan agar berperilaku selaras dengan alam.
“Ini membutuhkan kolaborasi dan struktur yang kuat untuk benar-benar mempertahankan keindahan alam Bali dan Indonesia,” tambahnya.
Semangat serupa disuarakan CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, yang memandang keberlanjutan lingkungan bahari sebagai urusan kompleks yang hanya bisa diselesaikan melalui gotong royong lintas sektor. Bagi Valerine, kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi pariwisata.
“Wisatawan punya banyak pilihan destinasi di dunia. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang,” katanya.
Melalui Wedoo, Valerine memperkenalkan mesin pengelolaan sampah inovatif yang mampu mereduksi volume limbah hingga 95 persen. Teknologi ini dirancang untuk menjawab tantangan logistik di wilayah terpencil, sekaligus mengubah sampah menjadi produk bernilai tambah.
“Dengan volume yang mengecil, sampah bukan lagi beban operasional yang mahal, melainkan aset bernilai ekonomi yang bisa diolah kembali,” ujarnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menopang kelestarian wisata bahari Indonesia, seiring dengan penguatan regulasi dan implementasi yang konsisten.
“Tempat seindah ini harus dijaga agar tetap lestari hingga ribuan tahun ke depan,” kata Valerine.
Upaya menjaga laut Indonesia juga berdenyut kuat dari tingkat akar rumput. Di Desa Pemuteran, Bali, keterlibatan masyarakat dalam melindungi terumbu karang telah menuai pengakuan internasional. Di bawah naungan Yayasan Karang Lestari, warga bahu-membahu memulihkan ekosistem yang sempat rusak.
Manajer Yayasan Karang Lestari, Komang Astika, mengisahkan bahwa praktik penangkapan ikan yang merusak pernah mengancam kehidupan karang di wilayah tersebut. Melalui berbagai inisiatif, termasuk penerapan metode biorock, terumbu karang perlahan bangkit kembali.
“Dengan mengamankan dan merestorasi terumbu karang, pariwisata Desa Pemuteran berkembang lebih baik dan semakin berkualitas,” ujarnya.
Kesadaran kolektif itu mengubah tantangan ekologis menjadi peluang ekonomi. Pariwisata tumbuh, lingkungan pulih, dan kesejahteraan masyarakat meningkat seiring waktu.
Sinergi menuju destinasi kelas dunia ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengapresiasi peran seluruh pihak dalam menata ulang wisata bahari Indonesia yang berkelanjutan.
“Indonesia tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga komitmen nyata untuk menjaganya,” tegasnya.
Menurut Ni Luh Puspa, pemerintah terus memperkuat kebijakan yang mendorong keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan pariwisata.
“Komitmen ini membutuhkan kekuatan kolektif untuk membentuk pariwisata bahari yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, memastikan lautan kita terus menginspirasi kemakmuran dan kebanggaan bagi generasi mendatang,” ujarnya saat menjadi pembicara kunci di Bali Ocean Days 2026.
Di tengah tantangan zaman, Indonesia perlahan menegaskan jati dirinya: bukan hanya negeri yang indah untuk dikunjungi, tetapi rumah bersama yang layak dijaga—agar laut tetap biru, karang tetap hidup, dan pariwisata terus bernapas panjang.
- Penulis: gardo
- Editor: ameri
