Film Indonesia Menggema di IFFR 2026, Diplomasi Budaya Mengalir dari Rotterdam ke Dunia
- account_circle Gapura News
- calendar_month Ming, 1 Feb 2026
- visibility 31
- comment 0 komentar

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menilai kehadiran film Indonesia di IFFR (dok. kemenbud)
JAKARTA – Langkah film Indonesia menembus panggung global kian mantap. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan hadir aktif mendukung promosi dan penguatan ekosistem perfilman nasional dengan mengawal partisipasi sineas Indonesia di International Film Festival Rotterdam (IFFR) ke-55 tahun 2026 di Rotterdam, Belanda.
Sebagai salah satu festival film internasional paling berpengaruh yang dikenal sebagai ruang tumbuh sinema independen dan inovatif, IFFR menjadi etalase penting bagi karya-karya film dunia.
Pada edisi ke-55 ini, Indonesia tampil membanggakan dengan menghadirkan dua film pendek, lima film panjang, serta satu proyek film yang mengikuti program pitching. Tak hanya itu, perwakilan Indonesia juga terlibat dalam program lab mentor dan producers lab yang diselenggarakan Rotterdam Film Lab.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menilai kehadiran film Indonesia di IFFR mencerminkan kemajuan signifikan perfilman nasional, baik dari sisi kualitas artistik, keberagaman narasi, maupun daya saing di tingkat internasional.
“Kita terus mendorong agar semakin banyak karya sineas Indonesia hadir di panggung global. Ke depan, kami berharap IFFR dapat membuka ruang Indonesia Focus atau Indonesia Spotlight sebagai platform strategis untuk memperdalam pemahaman lintas budaya sekaligus memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia–Belanda melalui sinema,” ujar Fadli Zon.
Menurutnya, peluang kerja sama ko-produksi film Indonesia–Belanda juga terbuka lebar. Potensi ini dapat difasilitasi melalui berbagai program Kementerian Kebudayaan, salah satunya Manajemen Talenta Nasional, sebuah platform yang dirancang untuk memastikan talenta budaya Indonesia mendapatkan dukungan menyeluruh—mulai dari pengembangan kapasitas, perluasan jejaring, hingga akses ke platform internasional.
Sejalan dengan itu, Indonesia mengapresiasi kolaborasi ko-kreatif melalui SAMASAMA Lab yang melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Inisiatif ini dinilai strategis dalam mendorong pengembangan proyek film, pertukaran talenta, serta penguatan ekosistem perfilman lintas negara. Kerja sama serupa juga terjalin dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Jakarta Film Week (JFW).
Fondasi kerja sama tersebut semakin kokoh dengan telah ditandatanganinya Perjanjian Ko-produksi Audiovisual Indonesia–Belanda pada 4 Desember 2024 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains Kerajaan Belanda. Pemerintah Indonesia menyambut perjanjian ini sebagai kerangka penting untuk memperluas kerja sama ko-produksi, mendorong pertumbuhan industri budaya, serta memperkuat pertukaran ekonomi budaya kedua negara.
Di sela agenda festival, Menteri Fadli Zon juga melakukan pertemuan dengan Direktur IFFR, Vanja Kaludjerčić. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan apresiasi atas peran strategis IFFR sebagai panggung global sinema independen, sekaligus menegaskan keselarasan visi kuratorial IFFR dengan sinema Indonesia kontemporer yang berani mengeksplorasi keragaman budaya dan isu sosial yang relevan.
Indonesia kembali menyampaikan minat menghadirkan Indonesian Spotlight di IFFR 2026 sebagai bagian dari penguatan pertukaran budaya dan kolaborasi industri film jangka panjang.
Ke depan, Indonesia dan Belanda juga berencana memperluas kerja sama dalam pengembangan film sejarah. Kolaborasi ini diharapkan menjadi sarana diplomasi budaya yang mampu mengangkat narasi sejarah secara kritis, kontekstual, dan berorientasi masa depan. Melalui kerja sama kreatif antara sineas, peneliti, arsip, dan institusi budaya kedua negara, film sejarah diharapkan dapat memperdalam pemahaman publik sekaligus mempererat ikatan historis Indonesia–Belanda.
“Melalui partisipasi di IFFR ke-55, kami berharap film Indonesia tidak hanya menjadi medium diplomasi budaya global, tetapi juga penggerak ekonomi budaya dan industri kreatif. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung sineas Indonesia agar semakin aktif, berdaya saing, dan hadir di panggung perfilman dunia,” tutup Fadli Zon.
- Penulis: Gapura News
