Di Ujung Sya’ban, Teater Rumah Mata Menanak Punggahan sebagai Jalan Pulang
- account_circle gardo
- calendar_month Sel, 3 Feb 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar

Agus Susilo dan anggota teater Rumah Mata (dok pribadi)
MEDAN – Teater Rumah Mata kembali menghidupkan tradisi Punggahan sebagai ruang refleksi budaya dan spiritual menjelang Ramadhan.
Kegiatan ini akan digelar pada Jumat, 13 Maret 2026, pukul 15.00 WIB di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti 17A/30, Sei Sikambing D, Medan Petisah.
Pimpinan Teater Rumah Mata, Agus Susilo, menjelaskan bahwa Punggahan merupakan tradisi tahunan masyarakat Indonesia di akhir bulan Sya’ban untuk menyambut datangnya Ramadhan.
“Punggahan adalah tradisi berkumpul menjelang Ramadhan. Di dalamnya ada makan bersama, doa, silaturahmi, dan saling memaafkan. Ini cara masyarakat merawat hubungan dengan Tuhan dan sesama,” ujar Agus, Selasa (3/3/2026)
Memasuki usia 21 tahun, Teater Rumah Mata menginterpretasikan Punggahan sebagai momentum penting untuk memperkuat perjalanan artistik dan kelembagaan yang mereka rancang melalui konsep 3 Rute Ture: nature, culture, dan future.
“Di usia 21 tahun ini, Punggahan kami maknai sebagai titik tekan untuk meningkatkan berbagai sisi yang tumbuh dan berkembang, mulai dari gagasan, spiritual, program, karya, jaringan, hingga manajerial,” katanya.
Menurut Agus, Punggahan tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, tetapi ditransformasikan menjadi ruang pembenahan diri secara spiritual dan sosial.
“Punggahan kami transformasi sebagai momentum memperbaiki diri, mempraktikkan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Merawat hati dengan saling memaafkan, merajut benang yang terputus, dan menguatkan akar yang menjalar,” tuturnya.
Lebih jauh, Teater Rumah Mata juga merekonstruksi Punggahan sebagai energi berkelanjutan untuk menggerakkan seluruh sumber daya komunitas teater tersebut.
“Punggahan kami jadikan energi untuk menghidupkan 3 Rute Ture sebagai dialektika jalan teater, yang mensejajarkan nature, culture, dan future Nusantara dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak,” pungkas Agus.
Kegiatan ini terbuka sebagai ruang perjumpaan budaya, spiritualitas, dan refleksi kolektif, sekaligus penanda konsistensi Teater Rumah Mata dalam merawat tradisi dan masa depan teater berbasis kearifan lokal.
- Penulis: gardo
- Editor: ameri
