Dari Lereng Bromo, Museum Tengger Jadi Benteng Terakhir Budaya Suku Tengger
- account_circle Badrin Masuka
- calendar_month Rab, 28 Jan 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar

Menteri Kebudayaan Fadly Zon resmikan Museum Tengger Diresmikan (dok. rentak.id)
PROBOLINGO – Upaya pelestarian budaya masyarakat Suku Tengger mendapat tonggak penting dengan diresmikannya Museum Tengger di kawasan kaki Gunung Bromo, Jawa Timur. Museum ini diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, sekaligus menjadi penanda tuntasnya proses revitalisasi yang dilakukan secara kolaboratif antara Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.
Revitalisasi Museum Tengger digarap melalui sinergi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur bersama pemerintah daerah, sebagai wujud komitmen nyata menjaga warisan budaya, tradisi, dan adat istiadat masyarakat Tengger yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menilai revitalisasi museum ini bukan sekadar pembenahan fisik, melainkan langkah strategis dalam menjaga identitas budaya bangsa.
“Rehabilitasi dan revitalisasi Museum Tengger merupakan wujud nyata komitmen kita dalam melestarikan warisan budaya, tradisi, serta adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi,” ujar Fadli Zon dikutip, Rabu (28/1/2026).
Museum Tengger menyimpan beragam ekspresi budaya masyarakat setempat, mulai dari benda pusaka bersejarah, dokumentasi, busana adat, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Koleksi tersebut, menurut Fadli Zon, merepresentasikan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter masyarakat Tengger.
“Nilai harmoni antara manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta, termasuk semangat gotong royong, toleransi, dan berbagi, merupakan harta yang tak ternilai,” katanya.
Lebih jauh, Fadli Zon menegaskan arah kebijakan Kementerian Kebudayaan yang ingin menempatkan museum sebagai ruang hidup kebudayaan. Museum tidak lagi sekadar tempat penyimpanan benda, tetapi juga pusat informasi, edukasi, dan aktivitas budaya bagi masyarakat.
Sebagai kawasan wisata unggulan Jawa Timur, Gunung Bromo dinilai memiliki kekayaan budaya yang tak terpisahkan dari keindahan alamnya. Kehadiran Museum Tengger diharapkan menjadi jendela pengetahuan bagi wisatawan untuk memahami ekosistem budaya masyarakat di sekitarnya.
“Kita berharap pengunjung tidak hanya menikmati panorama Bromo, tetapi juga memahami kehidupan dan kebudayaan masyarakat Suku Tengger. Di sinilah peran penting Museum Tengger sebagai pusat edukasi budaya,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Fadli Zon juga menyinggung komitmen pemerintah dalam pelindungan warisan budaya, termasuk registrasi museum, cagar budaya, dan warisan budaya tak benda. Ia turut mengapresiasi peran tokoh adat Tengger, salah satunya Romo Sutomo yang sebelumnya menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
“Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan negara terhadap para tokoh adat yang terus menjaga dan meneladankan nilai-nilai budaya,” ungkapnya.
Ke depan, Museum Tengger diharapkan mampu mendorong tumbuhnya ekosistem budaya sekaligus ekonomi kreatif di wilayah sekitar. Peningkatan jumlah pengunjung diyakini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal.
“Dengan hadirnya Museum Tengger, kami berharap museum ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman wisata di Gunung Bromo,” kata Fadli Zon.
Pengelolaan museum akan dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah, BPK Wilayah XI, dan masyarakat desa setempat, serta didukung kolaborasi dengan perguruan tinggi guna memperkaya riset dan koleksi.
Peresmian Museum Tengger turut dihadiri sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat, antara lain Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Muhammad Zubaidi, jajaran Forkopimda, serta tokoh adat Tengger Romo Dukun Sutomo dan Romo Dukun Eko Warnoto.
Menutup sambutannya, Menteri Fadli Zon menyatakan optimismenya terhadap masa depan Museum Tengger. Ia berharap museum ini terus berkembang dan menjadi pusat rujukan utama tentang adat istiadat masyarakat Tengger, Gunung Bromo, dan wilayah sekitarnya.
- Penulis: Badrin Masuka
- Editor: ameri
