Indonesia–Belanda Perkuat Diplomasi Budaya dan Film di IFFR 2026
- account_circle gardo
- calendar_month Sab, 31 Jan 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar

Menbud Fadli Zon melakukan dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gouke Moes (dok. gapuranews.com)
DEN HAG – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gouke Moes, pada 29 Januari 2026.
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Belanda, khususnya di bidang kebudayaan, perfilman, arsip, dan pengelolaan warisan budaya.
Dialog kedua menteri berlangsung bertepatan dengan penyelenggaraan International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2026, yang tahun ini memberi ruang luas bagi perfilman Indonesia. Sejumlah karya sineas nasional tampil di ajang bergengsi tersebut, mulai dari dua film pendek, lima film panjang, hingga keterlibatan produser Indonesia dalam berbagai program pengembangan seperti pitching, lab mentor, dan Rotterdam Film Lab.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas perhatian IFFR terhadap film Indonesia. Ia juga mengusulkan penyelenggaraan program khusus bertajuk “Indonesia Focus” atau “Indonesia Spotlight” pada edisi IFFR mendatang sebagai wadah pendalaman pertukaran budaya melalui sinema.
Di sektor perfilman dan audiovisual, Indonesia dan Belanda menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti Perjanjian Kerja Sama Ko-produksi Audiovisual yang telah ditandatangani pada 4 Desember 2024. Saat ini, proses ratifikasi perjanjian tersebut masih berlangsung melalui koordinasi lintas kementerian di Indonesia.
Penguatan kerja sama juga menyasar pengembangan talenta kreatif melalui SAMASAMA Lab, sebuah program ko-kreasi lintas negara yang melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan RI, serta Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Inisiatif ini dirancang untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan melalui pengembangan proyek, pertukaran pengetahuan, dan jejaring profesional internasional.
Selain perfilman, Fadli Zon menyoroti pentingnya kolaborasi di bidang arsip sejarah dan budaya, terutama pemanfaatan arsip Belanda yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Indonesia. Pemerintah Belanda menyambut positif gagasan tersebut, termasuk kerja sama dalam digitalisasi arsip, akses bersama, penelitian, restorasi film, pameran, hingga penguatan kapasitas kelembagaan dengan pendekatan yang etis, inklusif, dan saling menghormati. Sejumlah institusi, seperti Eye Film Museum dan KITLV, diharapkan dapat terlibat aktif.
Dalam isu repatriasi, Fadli Zon mengapresiasi pendekatan cultural and historical justice yang ditempuh pemerintah Belanda dalam pengembalian warisan budaya Indonesia. Salah satunya adalah koleksi Dubois yang kini telah dipamerkan di Museum Nasional Indonesia. Indonesia juga mendorong percepatan repatriasi terhadap 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK) yang telah mendapat rekomendasi pengembalian dari Colonial Collection Committee (CCC).
Secara khusus, Indonesia mengusulkan repatriasi karya dan peninggalan maestro seni rupa Raden Saleh yang saat ini tersimpan di Museum Naturalis, Belanda. Usulan ini dinilai penting sebagai bagian dari upaya pemulihan sejarah seni dan penguatan identitas budaya nasional.
- Penulis: gardo
- Editor: regardo sipiroko
