Nada Terakhir Ryan Kyoto: Musisi Era 80–90-an Berpulang, Karya Abadi Tinggal Kenangan
- account_circle Gapura News
- calendar_month Rab, 28 Jan 2026
- visibility 40
- comment 0 komentar

Ryan Kyoto (dok pribadi)
JAKARTA – Nada-nada yang pernah mengisi kejayaan musik Indonesia era 1980–1990-an kini tinggal kenangan. Ryan Kyoto, penyanyi sekaligus pencipta lagu yang karyanya melekat di ingatan banyak penikmat musik Tanah Air, berpulang pada Rabu (28/1/2026) pagi. Ia menghembuskan napas terakhir di RS Polri, Jakarta Timur, pada usia 67 tahun.
Musisi bernama asli Risniryan itu meninggal dunia setelah berjuang melawan komplikasi kesehatan pascaoperasi jantung. Sehari sebelumnya, Ryan menjalani tindakan pemasangan ring jantung di RS Hermina Kemayoran, Jakarta Pusat. Kondisinya sempat membaik sebelum akhirnya terserang stroke pada Senin (26/1/2026) pagi dan dilarikan ke RS Polri.
“Setelah operasi pasang ring sekitar pukul 12 siang, kondisinya baik. Pulang ke rumah masih bisa bercanda dengan anak cucunya. Tapi Senin pagi tiba-tiba tidak sadar, lalu kami bawa ke RS Polri,” ujar Aldrin, salah satu putra Ryan, kepada media.
Menurut Aldrin, kondisi ayahnya semakin kompleks setelah diketahui mengalami luka pada lambung akibat efek obat-obatan yang dikonsumsi. Ryan sempat sadar pada Selasa (27/1/2026), namun kesehatannya kembali menurun hingga akhirnya berpulang sekitar pukul 08.30 WIB keesokan harinya.
“Mohon dimaafkan semua kesalahan beliau ya. Ayah orangnya suka bercanda,” ucap Aldrin dengan suara tertahan, rABU (28/1/2026).
Jenazah Ryan Kyoto dimakamkan di Kelurahan Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur, selepas salat Dzuhur. Makamnya hanya berjarak sekitar lima meter dari pusara sang putra, Muhammad Aldila Akbar, mantan pesenam andalan Indonesia peraih emas SEA Games yang lebih dulu wafat.
Selain dikenal sebagai musisi, Ryan juga aktif memperjuangkan hak pencipta lagu. Ia tercatat sebagai anggota Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) yang didirikan Ahmad Dhani. Bersama AKSI, Ryan kerap terlibat dalam diskusi dan rapat yang mendorong penerapan sistem direct license serta reformasi Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) demi pembagian royalti yang lebih adil.
Saat ditanya soal perjuangan AKSI pada tahun lalu, Ryan menjawab singkat namun penuh makna, “Masih panjang. Nggak mudah soalnya.”
Kabar wafatnya Ryan Kyoto pun segera disampaikan oleh AKSI melalui unggahan Instagram. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Keluarga besar AKSI turut berduka cita atas berpulangnya Ryan Kyoto — pencipta lagu dan penyanyi senior yang telah mewarnai perjalanan musik Indonesia, khususnya era 80–90-an,” tulis AKSI.
Pada masa keemasannya, Ryan Kyoto melahirkan sejumlah lagu populer yang dinyanyikan musisi besar Tanah Air, seperti Pasrah (Ermy Kullit), Cinta Jangan Kau Pergi (Sheila Majid), dan Sendiri Lagi (Chrisye/NOAH). Ia juga pernah membentuk duet bersama sang kakak, Richard Kyoto.
- Penulis: Gapura News
