Breaking News
Beranda » Nusantara » Maluku Barat Daya, Benteng Terakhir Laut Dunia: Dugong Berkumpul, Karang Bertahan 200 Tahun

Maluku Barat Daya, Benteng Terakhir Laut Dunia: Dugong Berkumpul, Karang Bertahan 200 Tahun

  • account_circle Badrin Masuka
  • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
  • visibility 24
  • comment 0 komentar

JAKARTA – Di sudut timur Indonesia, jauh dari hiruk-pikuk industri dan kota besar, laut Maluku Barat Daya diam-diam menyimpan peran besar bagi planet ini.

Ekspedisi ilmiah Kepulauan Romang–Damer 2025 yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia membuktikan satu hal penting: kawasan ini bukan sekadar indah, melainkan penyangga terakhir keanekaragaman hayati laut dunia di tengah krisis iklim global.

Selama sebulan penuh, para peneliti menyusuri perairan yang menjadi titik temu arus Laut Banda dan Samudera Hindia. Hasilnya mengejutkan. Perairan Maluku Barat Daya (MBD) terbukti menjadi ekosistem laut paling tangguh, kaya nutrisi, dan stabil—sebuah “dapur raksasa” yang menopang kehidupan laut lintas samudera.

“Temuan ini mempertegas bahwa konservasi tidak bisa lagi berbasis asumsi. Data ilmiah harus menjadi fondasi pengelolaan laut, dengan masyarakat sebagai penjaga utamanya,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, saat memaparkan hasil ekspedisi di Jakarta.

Salah satu temuan paling langka datang dari perairan dangkal Romang–Damer. Dalam satu hamparan lamun, tim peneliti menjumpai 32 ekor dugong—mamalia laut pemalu yang populasinya kian menyusut secara global. Bagi peneliti, jumlah ini bukan sekadar angka, melainkan pesan kuat bahwa laut Maluku Barat Daya masih sehat.

Dugong hanya bertahan di perairan dengan kualitas lingkungan yang sangat baik. Dan Maluku Barat Daya memenuhi syarat itu. Ekosistem lamun di kawasan ini tercatat memiliki tutupan di atas 50 persen, dengan sembilan jenis lamun—dua pertiga dari total jenis yang ada di Indonesia.

“Menemukan dugong sebanyak ini dalam satu lokasi adalah peristiwa langka, bahkan untuk ukuran dunia,” ungkap salah satu peneliti ekspedisi.

Tak berhenti di dugong, ekspedisi ini juga membuka tabir usia tua ekosistem laut MBD. Terumbu karang di Romang dan Damer memiliki tutupan hingga 51,4 persen, melampaui rata-rata kawasan timur Indonesia. Lebih mencengangkan lagi, sebagian koloni karang diperkirakan telah berusia 100 hingga 200 tahun.

Karang-karang tua ini menjadi bukti bahwa perairan dangkal MBD telah bertahan melewati perubahan zaman—dari fluktuasi iklim hingga tekanan alam. Ia menjadi pelindung pantai, tempat pemijahan ikan, sekaligus fondasi ekonomi masyarakat pesisir.

Ketangguhan Maluku Barat Daya tak lahir begitu saja. Di baliknya ada tangan-tangan masyarakat adat yang menjaga laut dengan cara leluhur. Praktik Sasi dan larangan adat (pemali) masih hidup di Romang dan Damer, mengatur kapan laut boleh diambil dan kapan harus dibiarkan pulih.

Pjs Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menyebut kawasan ini sebagai contoh nyata keberhasilan konservasi berbasis budaya.

“Di saat banyak wilayah mengalami pemutihan karang, terumbu di sini tetap sehat. Namun ancaman dari luar—penangkapan ikan merusak, sampah plastik, dan ghost net—mulai membayangi,” katanya.

Meski tersembunyi, Maluku Barat Daya tidak sepenuhnya aman. Praktik bom ikan, racun, perburuan penyu, hingga sampah plastik perlahan merambah wilayah yang selama ratusan tahun terjaga. Jika kerusakan terjadi, dampaknya tak hanya dirasakan lokal.

Sebagai jalur distribusi nutrisi dari laut dalam dan samudera, kerusakan MBD berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi kawasan timur Indonesia, bahkan lintas negara.

Menyadari tantangan tersebut, WWF Indonesia bersama KKP mendorong pendekatan konservasi berbasis budaya Kalwedo—nilai persaudaraan dan kebersamaan khas Maluku Barat Daya. Pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar tumbuh rasa memiliki terhadap lautnya sendiri.

Di tengah krisis iklim dan eksploitasi berlebih, Maluku Barat Daya menawarkan pelajaran penting: laut bisa tetap hidup jika dijaga bersama. Dari kearifan adat hingga sains modern, dari dugong hingga karang tua, kawasan ini menjadi pengingat bahwa masa depan laut Indonesia masih punya harapan—selama manusia mau belajar mendengarkan alam.

  • Penulis: Badrin Masuka
  • Editor: ameri

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEN 2026 Resmi Diluncurkan, 125 Event Unggulan Siap Genjot Pariwisata Daerah

    KEN 2026 Resmi Diluncurkan, 125 Event Unggulan Siap Genjot Pariwisata Daerah

    • calendar_month Rab, 28 Jan 2026
    • account_circle lazir
    • visibility 52
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kementerian Pariwisata resmi meluncurkan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 dengan menghadirkan 125 event unggulan dari 38 provinsi di seluruh Indonesia. Program ini menjadi strategi utama pemerintah untuk menjadikan event daerah sebagai motor penggerak pariwisata nasional sekaligus memperluas dampak ekonomi hingga ke daerah. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, KEN bukan sekadar agenda perayaan […]

  • Tidur Bukan Sekadar Istirahat: Rahasia Kesehatan yang Sering Diremehkan

    Tidur Bukan Sekadar Istirahat: Rahasia Kesehatan yang Sering Diremehkan

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle adam
    • visibility 32
    • 0Komentar

    TIDUR sering dianggap sekadar jeda dari rutinitas harian. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, banyak orang merasa cukup dengan memejamkan mata beberapa jam, lalu berharap tubuh kembali segar. Namun kenyataannya, tak sedikit yang bangun pagi dengan kepala berat, tubuh lelah, dan emosi yang mudah tersulut—meski durasi tidurnya terasa cukup. Fenomena ini semakin sering terjadi di […]

  • Tipang, Surga Tenang di Tepian Danau Toba yang Wajib Disinggahi

    Tipang, Surga Tenang di Tepian Danau Toba yang Wajib Disinggahi

    • calendar_month Ming, 1 Feb 2026
    • account_circle gardo
    • visibility 39
    • 0Komentar

    DANAU Toba kerap dijuluki Negeri Kepingan Surga. Julukan itu terasa masuk akal, sebab danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara ini dapat dinikmati dari beragam sudut pandang di tujuh kabupaten: Toba, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara. Setiap wilayah menyimpan lanskap dan cerita yang berbeda—dan salah satu yang paling memikat ada di sisi […]

  • Jepang Baru Meneliti, Rasulullah SAW Sudah Mencontohkan Sejak 1.400 Tahun Lalu

    Jepang Baru Meneliti, Rasulullah SAW Sudah Mencontohkan Sejak 1.400 Tahun Lalu

    • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
    • account_circle atz
    • visibility 34
    • 0Komentar

    DI TENGAH  budaya kerja keras yang dikenal ekstrem, Jepang justru memiliki kebiasaan unik yang mungkin mengejutkan banyak orang: tidur siang singkat dianjurkan. Praktik ini dikenal dengan istilah inemuri, yang secara harfiah berarti “hadir sambil tertidur.” Di kantor, kereta, atau ruang publik, seseorang yang tertidur sebentar tidak selalu dianggap malas. Sebaliknya, ia sering dipersepsikan sebagai orang […]

  • Disorot Presiden, Aksi Bersih-Bersih Libatkan 1.000 Orang di Pantai Bali

    Disorot Presiden, Aksi Bersih-Bersih Libatkan 1.000 Orang di Pantai Bali

    • calendar_month Sel, 3 Feb 2026
    • account_circle gardo
    • visibility 32
    • 0Komentar

    JAKARTA – Bali kembali menjadi sorotan, bukan karena keindahan alamnya, melainkan persoalan sampah. Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sejumlah pantai di Bali yang dinilai semakin kotor, bahkan menuai keluhan dari tokoh-tokoh internasional. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten […]

  • Di Ujung Sya’ban, Teater Rumah Mata Menanak Punggahan sebagai Jalan Pulang

    Di Ujung Sya’ban, Teater Rumah Mata Menanak Punggahan sebagai Jalan Pulang

    • calendar_month Sel, 3 Feb 2026
    • account_circle gardo
    • visibility 41
    • 0Komentar

    MEDAN – Teater Rumah Mata kembali menghidupkan tradisi Punggahan sebagai ruang refleksi budaya dan spiritual menjelang Ramadhan. Kegiatan ini akan digelar pada Jumat, 13 Maret 2026, pukul 15.00 WIB di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti 17A/30, Sei Sikambing D, Medan Petisah. Pimpinan Teater Rumah Mata, Agus Susilo, menjelaskan bahwa Punggahan merupakan […]

expand_less