Breaking News
Beranda » Nusantara » Maluku Barat Daya, Benteng Terakhir Laut Dunia: Dugong Berkumpul, Karang Bertahan 200 Tahun

Maluku Barat Daya, Benteng Terakhir Laut Dunia: Dugong Berkumpul, Karang Bertahan 200 Tahun

  • account_circle Badrin Masuka
  • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
  • visibility 22
  • comment 0 komentar

JAKARTA – Di sudut timur Indonesia, jauh dari hiruk-pikuk industri dan kota besar, laut Maluku Barat Daya diam-diam menyimpan peran besar bagi planet ini.

Ekspedisi ilmiah Kepulauan Romang–Damer 2025 yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia membuktikan satu hal penting: kawasan ini bukan sekadar indah, melainkan penyangga terakhir keanekaragaman hayati laut dunia di tengah krisis iklim global.

Selama sebulan penuh, para peneliti menyusuri perairan yang menjadi titik temu arus Laut Banda dan Samudera Hindia. Hasilnya mengejutkan. Perairan Maluku Barat Daya (MBD) terbukti menjadi ekosistem laut paling tangguh, kaya nutrisi, dan stabil—sebuah “dapur raksasa” yang menopang kehidupan laut lintas samudera.

“Temuan ini mempertegas bahwa konservasi tidak bisa lagi berbasis asumsi. Data ilmiah harus menjadi fondasi pengelolaan laut, dengan masyarakat sebagai penjaga utamanya,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, saat memaparkan hasil ekspedisi di Jakarta.

Salah satu temuan paling langka datang dari perairan dangkal Romang–Damer. Dalam satu hamparan lamun, tim peneliti menjumpai 32 ekor dugong—mamalia laut pemalu yang populasinya kian menyusut secara global. Bagi peneliti, jumlah ini bukan sekadar angka, melainkan pesan kuat bahwa laut Maluku Barat Daya masih sehat.

Dugong hanya bertahan di perairan dengan kualitas lingkungan yang sangat baik. Dan Maluku Barat Daya memenuhi syarat itu. Ekosistem lamun di kawasan ini tercatat memiliki tutupan di atas 50 persen, dengan sembilan jenis lamun—dua pertiga dari total jenis yang ada di Indonesia.

“Menemukan dugong sebanyak ini dalam satu lokasi adalah peristiwa langka, bahkan untuk ukuran dunia,” ungkap salah satu peneliti ekspedisi.

Tak berhenti di dugong, ekspedisi ini juga membuka tabir usia tua ekosistem laut MBD. Terumbu karang di Romang dan Damer memiliki tutupan hingga 51,4 persen, melampaui rata-rata kawasan timur Indonesia. Lebih mencengangkan lagi, sebagian koloni karang diperkirakan telah berusia 100 hingga 200 tahun.

Karang-karang tua ini menjadi bukti bahwa perairan dangkal MBD telah bertahan melewati perubahan zaman—dari fluktuasi iklim hingga tekanan alam. Ia menjadi pelindung pantai, tempat pemijahan ikan, sekaligus fondasi ekonomi masyarakat pesisir.

Ketangguhan Maluku Barat Daya tak lahir begitu saja. Di baliknya ada tangan-tangan masyarakat adat yang menjaga laut dengan cara leluhur. Praktik Sasi dan larangan adat (pemali) masih hidup di Romang dan Damer, mengatur kapan laut boleh diambil dan kapan harus dibiarkan pulih.

Pjs Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menyebut kawasan ini sebagai contoh nyata keberhasilan konservasi berbasis budaya.

“Di saat banyak wilayah mengalami pemutihan karang, terumbu di sini tetap sehat. Namun ancaman dari luar—penangkapan ikan merusak, sampah plastik, dan ghost net—mulai membayangi,” katanya.

Meski tersembunyi, Maluku Barat Daya tidak sepenuhnya aman. Praktik bom ikan, racun, perburuan penyu, hingga sampah plastik perlahan merambah wilayah yang selama ratusan tahun terjaga. Jika kerusakan terjadi, dampaknya tak hanya dirasakan lokal.

Sebagai jalur distribusi nutrisi dari laut dalam dan samudera, kerusakan MBD berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi kawasan timur Indonesia, bahkan lintas negara.

Menyadari tantangan tersebut, WWF Indonesia bersama KKP mendorong pendekatan konservasi berbasis budaya Kalwedo—nilai persaudaraan dan kebersamaan khas Maluku Barat Daya. Pendekatan ini ditujukan untuk memperkuat kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar tumbuh rasa memiliki terhadap lautnya sendiri.

Di tengah krisis iklim dan eksploitasi berlebih, Maluku Barat Daya menawarkan pelajaran penting: laut bisa tetap hidup jika dijaga bersama. Dari kearifan adat hingga sains modern, dari dugong hingga karang tua, kawasan ini menjadi pengingat bahwa masa depan laut Indonesia masih punya harapan—selama manusia mau belajar mendengarkan alam.

  • Penulis: Badrin Masuka
  • Editor: ameri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Ujung Sya’ban, Teater Rumah Mata Menanak Punggahan sebagai Jalan Pulang

    Di Ujung Sya’ban, Teater Rumah Mata Menanak Punggahan sebagai Jalan Pulang

    • calendar_month Sel, 3 Feb 2026
    • account_circle gardo
    • visibility 36
    • 0Komentar

    MEDAN – Teater Rumah Mata kembali menghidupkan tradisi Punggahan sebagai ruang refleksi budaya dan spiritual menjelang Ramadhan. Kegiatan ini akan digelar pada Jumat, 13 Maret 2026, pukul 15.00 WIB di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Jalan Sei Siguti 17A/30, Sei Sikambing D, Medan Petisah. Pimpinan Teater Rumah Mata, Agus Susilo, menjelaskan bahwa Punggahan merupakan […]

  • Penumpang LRT Jabodebek Tembus 57 Juta, Mobilitas Perkotaan Kian Bergeser ke Transportasi Publik

    Penumpang LRT Jabodebek Tembus 57 Juta, Mobilitas Perkotaan Kian Bergeser ke Transportasi Publik

    • calendar_month Sel, 10 Feb 2026
    • account_circle Badrin Masuka
    • visibility 22
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat pertumbuhan kinerja yang konsisten pada layanan LRT Jabodebek sejak mulai beroperasi pada Agustus 2023 hingga Januari 2026. Dalam kurun waktu tersebut, LRT Jabodebek telah melayani total 57.149.924 pelanggan, menegaskan peran strategis transportasi rel perkotaan dalam menopang mobilitas masyarakat Jabodetabek yang terus meningkat. Tren kenaikan jumlah […]

  • ATF 2026 Jadi Panggung Indonesia Perkuat Arah Pariwisata ASEAN

    ATF 2026 Jadi Panggung Indonesia Perkuat Arah Pariwisata ASEAN

    • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
    • account_circle Gapura News
    • visibility 38
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komitmen Indonesia dalam membangun pariwisata ASEAN yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global kembali ditegaskan dalam ajang ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026 yang digelar di Cebu, Filipina. Forum ini menjadi momentum penting bagi negara-negara ASEAN untuk menyepakati arah baru pengembangan sektor pariwisata kawasan melalui adopsi ASEAN Tourism Sectoral Plan (ATSP) 2026–2030. Peta jalan […]

  • Menjaga Rasa Sejak 1965, Kopi Cap Bemo Bertahan di Jantung Pasar Rawamangun

    Menjaga Rasa Sejak 1965, Kopi Cap Bemo Bertahan di Jantung Pasar Rawamangun

    • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
    • account_circle adam
    • visibility 31
    • 0Komentar

    JAKARTA – Aroma kopi itu tak pernah benar-benar pergi dari Pasar Rawamangun, Jakarta Timur. Ia bertahan, mengendap, lalu tumbuh bersama waktu. Dari antara hiruk-pikuk pedagang dan deru kendaraan yang datang dan pergi, satu nama terus diseru para penikmat kopi lintas generasi: Toko Kopi Cap Bemo. Kisahnya bermula pada 1965, ketika almarhum Rahman Lahirin bersama istrinya, […]

  • Parapuar Labuan Bajo Dikembangkan Jadi Magnet Wisata Wellness dan Agrowisata

    Parapuar Labuan Bajo Dikembangkan Jadi Magnet Wisata Wellness dan Agrowisata

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle Badrin Masuka
    • visibility 26
    • 0Komentar

    JAKARTA – Labuan Bajo terus memantapkan langkah sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata, resmi menggandeng dua mitra strategis—PT Terra SparX dan Koperasi Pesantren Al-Ittifaq—untuk memperkuat pengembangan wisata wellness dan agrowisata di kawasan Parapuar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kerja sama tersebut ditandai […]

  • Merawat Surga Bahari: Kolaborasi Menjaga Laut Indonesia Tetap Lestari

    Merawat Surga Bahari: Kolaborasi Menjaga Laut Indonesia Tetap Lestari

    • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
    • account_circle gardo
    • visibility 18
    • 0Komentar

    BALI – Di balik debur ombak yang tak pernah lelah menyapa pantai dan kilau pasir putih yang memesona mata dunia, Indonesia tengah menapaki babak baru pariwisatanya. Tak lagi semata menjual keindahan, negeri kepulauan ini mulai menegaskan satu pesan penting: surga alam hanya akan bertahan jika dirawat bersama. Sebuah kesadaran kolektif kini tumbuh di tengah para […]

expand_less